Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar
Ada sebait do'a
yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada
Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do'a tersebut berbunyi :
Allaahummanfa'nii bimaa allamtanii wa'allimnii maa yanfa'uni wa zidnii ilman
maa yanfa'unii. Dengan do'a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya
ilmu yang bermamfaat.
Apakah hakikat ilmu
yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila
mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun
alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak
membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu,
Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di
mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.
Oleh karena itu,
dalam kacamata ma'rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang
pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. "Ilmu yang berguna," ungkapnya,
"ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati."
seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a.
berkata, "Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan
(sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia.
Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan
menjauhkannya dari kesombongan diri."
Ilmu itu hakikatnya
adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan
pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur
Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya
lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun
Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] :
109).
Adapun ilmu yang
dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah
samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah,
yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia
kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset
sedikit pun!
Akan tetapi,
walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat
banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut
kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang
kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan
mendapatkan mamfaat darinya.
Hal lain yang
hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat
memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat
membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh
kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah
sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu
ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih."
Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak
maksiatnya.
Karenanya, jangan
heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim
dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu
dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang
kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun,
sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita
sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak
akan pernah menerangi hati.
Padahal kalau hati
kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik
cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan
ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya,
hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang
terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk
menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah
untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya.
Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu
yang akan membawa mudharat.
Sebaik-baik ilmu
adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut
ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu
yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.
Bila mendapat air
yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk
menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang
bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang
kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.
Mengapa demikian?
Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan
kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi
alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita
ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya
dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma'rifat.
Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita
takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.
Oleh karena itu,
tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam
rangka ma'rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya
kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah
Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan
mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di
hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia
tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa
apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum'ah. Merasa diri besar,
sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh.
Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal,
bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang
sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari
kita?
Subhanallaah!
Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi
penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub
kepada-Nya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar